Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Pada Sertifikat Hak Guna Bangunan dengan Sertifikat Hak Milik

 Sudah menjadi hal yang biasa yaitu, rahasia umum bagi banyak orang yang mengatakan bahwa properti adalah instrumen investasi yang menguntungkan. Properti yang dimaksud ialah dapat berupa rumah, apartemen, tanah, serta properti untuk kebutuhan komersial seperti ruko, rukan, gedung perkantoran, pabrik dan hotel. 

 Perbedaan Pada Sertifikat Hak Guna Bangunan dengan Sertifikat Hak Milik

Property adalah investasi jangka yang cukup panjang. Sebagai investor jangka panjang maka harus mengetahui Perbedaan Pada Sertifikat Hak Guna Bangunan dengan Sertifikat Hak Milik  dan Anda harus lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan dalam proses jual-beli properti. 



 

Seperti hal ketika pihak buyer harus mempelajari status dan kelengkapan sertifikat yang dimiliki oleh pemilik rumah terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses transaksi rumah yang Anda targetkan. Pengecekan terhadap status dan kelengkapan surat bisa dilakukan dengan menanyakan bukti kepemilikan kepada pihak owner. Setelah mendapatkan foto copy berupa sertifikat kepemilikan Property yang ditargetkan, Anda bisa meminta bantuan notaris untuk melakukan pengecekan keabsahan sertifikat. Dalam hal ini, notaris memiliki wewenang untuk melakukan pengecekan terhadap keabsahan status dan kelengkapan sertifikat kepemilikan.

Sebagai langkah pertama, Anda harus memperhatikan status hunian tersebut. Mulailah dengan menyelidiki status tanah yang menjadi tempat bangunan tersebut didirikan. Lakukanlah penyelidikan seputar status hunian dan status tanah di awal pembicaraan dengan pemilik properti, sebelum melakukan penawaran dan terjadinya transaksi. Melakukan pengecekan status tanah, status bangunan serta kelengkapan surat sertifikat di awal akan menghindarkan Anda dari permasalahan sengketa di kemudian hari. Hal ini juga dapat membuat Anda lebih tenang dalam proses Administrasi.

Selain itu, hal penting lainnya yang harus Anda ketahui adalah apakah bangunan tersebut memiliki Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atau sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM). SHGB dan SHM sama-sama memiliki kekuatan hukum. Tetapi, kekuatan hukumnya berbeda. 

 

  Apa Yang dimaksud dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)?

SHGB Merupakan singkatan dari Sertifikat Hak Guna atas Bangunan. SHGB adalah suatu hak dan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah atau negara dimana pemegang SHGB memiliki hak untuk menggunakan sebuah lahan yang bukan miliknya. Terdapat jangka waktu dalam SHGB. SHGB hanya berlaku dalam jangka waktu 30 tahun. Setelah masa SHGB berakhir, maka Pemegang Sertifikat HGB dapat melakukan perpanjangan SHGB sampai dengan jangka waktu maksimal 20 tahun. Artinya, potensi Hak Guna Bangunan yang diberikan maksimal 50 tahun. 

Kuasa yang diberikan  dapat digunakan untuk mendirikan bangunan ataupun menggunakan tanah tersebut untuk keperluan lain sesuai perizinan dan peruntukannya dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Artinya, Pemegang SHGB hanya memiliki bangunan properti yang dibagun, tetapi tanah tempat mendirikan bangunan tersebut merupakan milik pemerintah atau milik negara. Pemegang SHGB tidak memiliki hak penuh dalam menggunakan lahan tersebut. Penggunaan lahan harus sesuai dengan perizinan yang tertulis pada SHGB. 

Apa Yang dimaksud dengan Sertifikat Hak Milik (SHM)?

SHM adalah singkatan dari Sertifikat Hak Milik. SHM merupakan sebuah status kepemilikan properti berupa sertifikat dimana Pemegang SHM memiliki hak dan kepemilikan penuh sebagai pemilik dari tanah atau lahan serta bangunan yang berada diatasnya. Kepemilikan dan hak penuh Pemegang SHM berlaku dalam jangka waktu yang tidak terbatas hingga properti tersebut berpindah kepemilikan. Dalam SHM tertulis secara jelas berapa luas tanah dan bangunan yang menjadi kekuasaan penuh Pemegang SHM.  

bahwa dapat dikatakan HM merupakan Sertifikat Kepemilikan properti yang memiliki kekuatan hukum sangat kuat. SHM memiliki kasta yang lebih tinggi dibandingkan dengan SHGB. Resiko sengketa kepemilikan SHM akan lebih terminimalisir ketimbang SHGB. Sangat disarankan bagi Anda untuk meningkatkan SHGB menjadi SHM jika memungkinkan. Utamakan membeli properti dengan legalitas kepemilikan Hak Milik. 

untuk saran dan masukan dipersihlahkan mengisi kolom komentar di bawah

 

 

Sumber : HukumProperty.com

 

Posting Komentar untuk "Perbedaan Pada Sertifikat Hak Guna Bangunan dengan Sertifikat Hak Milik"