Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Fakta Bisnis Perhotelan di Bali Paling Terpuruk

Sebelum era pandemi, bisnis perhotelan bisa dibilang paling diminati para wisatawan, baik wisatawan lokal atau wisatawan asing. Hotel memiliki manajemen yang memang lebih mendukung untuk penginapan para wisatawan. Tetapi, ketika datang masa pandami covid-19, bisnis perhotelan di Bali seakan lenyap, seperti tidak pernah ada hotel di Bali. Tentunya, ini menjadi fakta bisnis perhotelan di Bali paling terpuruk di tahun 2020-2021. 

Sumber: Suara.com

 

Selama masa pandemi, sudah banyak hotel yang sudah dijual. Tentunya, harga jualnya pun tidak semahal ketika masih banyak wisatawan yang menginap. Faktor kebutuhan membayar karyawan dan sebagainya sehingga memutuskan untuk menjual hotel. Bisa saja solusi lainya adalah menutup hotel.

Setelah program vaksinasi menuju 100% hampir berhasil yakni di tahun 2021, diharapkan kondisi bisnis perhotelan di Bali pulih kembali. Pemulihanya tentu dengan memberi akses kembali untuk para wisatawan lokal dan asing.

Pertama dalam Sejarah Bisnis Perhotelan Terpuruk

Seperti yang dilansir di laman IDNtimes, baru pertama kali Bali mengalami kondisi zero atau nol dalam memanfaatkan hunian sewa, khususnya di bisnis perhotelan. Hal ini karena sifatnya pelarangan penuh dari pemerintah untuk sektor pariwisata Bali. Ketika sektor pariwisata ditutup, berdampak juga pada penyewaan di hotel.

Bali pernah mengalami tragedi pemboman skala besar. Kegiatan bisnis pariwisata terhambat, termasuk masalah bisnis perhotelan. Namun, kondisinya tidak sampai nol persen pemanfaatan hunian di hotel, masih sekitar 20 persen. Tentunya hal ini terbantu dengan kehadiran wisatawan domsetik dan pangsa pasar asia. Masih bisa jalan, tidak off seperti sekarang ini.

Ratusan Ribu Pekerja di Bisnis Perhotelan Kehilangan Pekerjaan

Tidak ada permasalahan manajemen atau pasar yang menurun yang membuat bisnis perhotelan terpaksa merumahkan karyawan. Permasalahan wabah covid-19 yang membuat bisnis perhotelan terkena dampak merugikan. Tidak heran, bila sebagian orang frustasi sampai pada level tidak pecaya covid-19, karena memang efeknya menggulingkan bisnis perhotelan.

Ada 300.000 karyawan perhotelan dan restoran yang terkena dampak wabah pandemi. Kemungkinan 100.000 lebih untuk karyawan perhotelan yang terkena dampak. Tentunya, ini perhitungan yang mungkin sebagian wilayah di Bali.

Kriteria pemberhentian pun beragam. Ada perusahaan hotel yang memberhentikan total karyawan tanpa gaji alias di PHK karena perusahaan hotel terlanjur sudah tidak mampu. Sebagian perusahaan hotel memang masih bisa menggaji pokok namun merumahkan karyawan. Tentunya, ada beban sosial dan ekonomi sendiri bila diberberhentikan tanpa gaji.

48 Hotel Dijual Setelah 18 Bulan Pandemi

Kalau properti hotel di jual di saat transaksi atau pasarnya bagus, tentu harga jualnya tinggi. Tetapi sayang, banyak hotel dijual di masa krisis akibat wabah covid-19. Bisa saja membuat harga jual properti hotel turun untuk kepentingan pemasukan. Bagi pemodal, mungkin ini menjadi kesempatan emas dalam membeli properti hotel. Tetapi penjualan hotel justru merugikan di pihak pengembang/pemilik hotel.

Ada sekitar 45 properti hotel yang dijual sesuai catatan Bank Indonesia yang dilansir laman Bisnis.com sesuai data Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Kebanyakan hotel yang dijual ada di daerah Badung yaitu sekitar 41 hotel. 4 Hotel berada di Denpasar dan 3 hotel juga Gianyar. Hotel bintang 4 yang memang terbanyak dijual yaitu sebanyak 19 hotel.

Bisnis perhotelan bisa saja bangkrut. Namun bila properti hotel dijual, kemungkinan harga jualnya stabil karena efek wabah covid pun tidak akan berlangsung lama. Bila kembali normal, bisnis perhotelan akan berjalan kembali. Hal ini yang membuat pemilik properti bisa tidak menjual murah properti hotelnya.

Posting Komentar untuk "3 Fakta Bisnis Perhotelan di Bali Paling Terpuruk"