Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Menjual Properti di Bali Saat Pandemi

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa mereka yang menjual properti di Bali di saat pandemi karena pemiliknya mengalami krisis keuangan. Alasan menjual properti di Bali saat pandemi bisa saja bukan karena faktor krisis ekonomi yang menimpa pemilik properti. Properti komersil di Bali sendiri diminati banyak orang, terutama wisatawan domestik atau asing.

Sumber: republika.co.id



Apa alasan pemilik menjual properti komersil yang ada di Bali? Hal ini bisa merujuk pada maraknya penjualan properti non komersil mewah yang ada di Jabodetabek dan Banten. Mereka menjual properti bukan karena mereka krisis ekonomi. Hal ini diungkapkan Direktor Center of Economic and Law Studies dalam laman Republika.

Lalu apa alasan menjual properti di Bali yang sempat dijadikan properti komersil atau disebut properti sewa?

1. Properti di Bali Tidak Menjadi Aset Lagi

Ketika bisnis perhotelan atau bisnis properti lainnya mengalami off, berhenti beroprasi, kondisi propertilnya masih ada. Namun, bangunan yang ada menjadi tidak menguntungkan lagi. Secara fisik, hotel atau properti lainnya memang dianggap aset. Tetapi, pandangan ini salah, menurut pakar properti. Justru properti menjadi aset bila menghasilkan pasif income

Hotel atau properti lain justru menjadi beban, liabilitas tiap tahun, baik pajak dan pengurusan hotelnya. Padahal, hotel sudah tidak mampu lagi mendapatkan penyewa kamar.

Hal itulah yang menjadi alasan menjual properti di Bali di masa pandemi. Ada lebih dari 600 hotel di Bali yang dijual hanya dari satu situs saja, yakni lewat Lamudi, seperti yang dilansir CNBC Indonesia. Bahkan banyak yang menjatuhkan harga sampai 20%, 30% bahkan sampai 50%.

2. Bertanggungjawab Menggaji Karyawan

Pemilik hotel menjual properti hotelnya di Bali bisa karena faktor tanggungjawab membayar kepada karyawan yang dirumahkan akibat pandemi. Daripada hotel tidak dijual, menghasilkan liabitas dan khususnya banyak karyawan terhenti pemasukannya, lebih baik dijual. Pemilik justru masih mendapat keuntungan sekalipun tidak sesuai harapan ketika hotel berhasil terjual.

Properti villa, kios dan juga kos-kosan yang biasa dihuni para wisatawan mungkin tidak sampai menjual properti yang ada di Bali. Tidak banyak karyawan yang menjadi tanggungannya. Dengan harapan, ketika normal bisa mendapatkan pasif income kembali.

3. Pemulihan 100% Kawasan Wisata di Bali Yang Tidak Pasti

Pada level 3 bulan September sampai Oktober 2021, aturan untuk Jawa-Bali masih memberlakukan penutupan tempat wisata. WNA masih belum dizini masuk di wilayah Indonesia untuk tujuan perjalanan biasa, seperti berwisata di Bali. Tentunya, ini belum ada pemulihan 100%.

Kapan bisa ada pemulihan agar pemasukan untuk properti komersil kembali pulih? Tentunya, bisa dianggap sebentar lagi dalam hitungan tahun walaupun tidak menjamin kembali ke kondisi semula sampai 100% pemulihan.

Karena tidak ada kepastian nasib ke depan selama 5 tahun, ini bisa menjadi alasan menjual properti yang ada di bali.

4. Mengganti ke Jenis Invetasi Yang Lebih Menarik

Investor unggulan memang memiliki rencana investasi jangka panjang. Menjual properti yang ada di Bali demi investasi jangka panjang yang lebih baik, bisa menjadi salah satu alasannya. Apalagi, sekarang banyak sekali jenis investasi yang sedang trend.

Penjualan properti kelas investor bukan karena mereka mengalami krisis ekonomi, tetapi lebih kepada meninggalkan aset yang sudah tidak menguntungkan, namun berpotensi menjadi liabilitas bila dibiarkan.

5. Merubah Liabilitas Properti Menjadi Keuntungan

Alasan lain menjual properti di Bali karena memang sudah momentum untuk penjualan properti. Mereka yang menjual properti hotel, villa dan lainnya karena sudah menjadi pemain lama. Keuntungan mereka sudah lebih dari cukup dari pasif income yang didapatkan.

Di saat pandemi, banyak hotel dan properti komersil lain tutup atau sepi pendatang. Kalau dibiarkan terlalu lama, harga jual properti bisa semakin turun.

Sebagai pemain lama, menunggu keberuntungan bersifat spekulan bukan sebuah solusi. Solusinya tentu menjual properti. Hal ini yang bisa dikatakan momentum untuk merubah liabilitas menjadi keuntungan walaupun bukan lagi berbentuk aset.

Lalu siapa yang tertarik dengan properti yang dijual? Bisa jadi para pemain baru dalam investasi properti. Mereka mau bermain keberuntungan ke depan.

Posting Komentar untuk "Alasan Menjual Properti di Bali Saat Pandemi"