Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyiasati Rumah Di Bali Mencegah Alih Fungsi Lahan

Bali memang sebuah provinsi yang memiliki keunggulan wisata. Banyak wisatawan datang ke Bali menambah kepadatan penduduk. Pembagunan properti komersial ikut andil mengurangi lahan di wilayah Bali. Di tambah lagi, kebutuhan rumah di Bali untuk penduduk asli bisa saja berpotensi mengalihfungsi lahan. Perlu menyiasati rumah di Bali mencegah alih fungsi lahan.

Sumber:pearceonearth.com



Bali dengan keindahan wisata terbaik, baik dilihat dari alam dan budaya, bisa saja akan semakin terkikis seiring bertambah banyak lahan yang beralih fungsi. Alih fungsi lahannya bisa dari desa ke kota, misalnya atau dari kawasan wisata menjadi properti hunian. Hal ini perlu diperhatikan pejabat dan masyarakat.

Apalagi, pemerintahan Bali tidak mengizinkan pembangunan vertikal lebih dari 15 meter sebagai solusi hunian rumah di Bali yang bisa meminimalkan upaya alih fungsi lahan.

Mengupayakan Memperbanyak Rumah Susun di Bali

Pembangunan apartemen di Bali atau rumah susun tinggi memang belum diizinkan karena faktor keamanan penerbangan dan juga budaya atau tradisi masyarakat Bali yang memegang teguh Tri Hita Karana. Apalagi semakin banyak apartemen atau rumah susun yang tinggi bisa merusak kekhasan kawasan wisata di Bali.

Pembangunan rumah vertikal atau disebut rumah susun di Bali dengan ketinggan 15 meter seharusnya menjadi solusi pemenuhan hunian rumah tanpa harus ada alih fungsi lahan. Konon, hal ini memang sudah diupayakan. Termasuk mencontohkan bangunan hotel, kondotel dan kos-kosan bertingkat yang sudah ada terlebih dahulu.

Salah satu bangunan rumah susun di Bali yang sudah terbangun adalah milik Kemenkumham yang bekerjasama dengan Kementrian PURR yaitu untuk hunian para ASN Kantor imigrasi.

Menyediakan Lahan Murah untuk Rumah di Bali

Yang menjadi mahal biaya pembangunan rumah, salah satunya di Bali, memang tanah. Kalau dalam hal pembangunan rumah, mahal atau tidaknya bergantung jenis bangunannya. Tentunya, semakin luas banguanan rumah, semakin mahal juga biaya membangun rumah di Bali.

Jadi, bisa disiasati memberikan harga murah untuk ukuran bangunan hunian rumah yang wajar untuk kalangan ekonomi menengah-kebawah.

Bisa dikatakan, ada penjualan tanah kavling dengan harga murah. Urusan bagaimana pembangunan rumah beserta biaya, bisa diserahkan ke pembeli tanah. Tentunya, ini sebagai solusi lain membangun rumah di Bali.  Jadi, tidak selalu rumah susun yang menjadi solusi.

Karena lokasi tanah rumah di Bali sudah diatur, hal ini tidak sampai merubah fungsi lahan, misalnya dari pertanian ke perumahan di jangka panjangnya.

Memperketat Pembangunan Properti Komersial

Di mana ada market bagus, disitulah terjadi banyak penawaran. Bali termasuk wilayah yang memiliki kualitas wisata taraf internasional. Banyak wisatawan yang datang di Bali, otomatis menghidupkan pikiran para investor untuk membangun dan menawarkan properti di Bali. Pada akhirnya, kawasan wisata Bali hanya menjadi kumpulan properti.

Apakah setiap tahun selalu ada pembangunan properti komersial baru? Terjadi pembangunan properti komersi baru disebabkan karena adanya pendatang baru. Tentunya, pembangunan properti seharusnya disesuaikan dengan jumlah market. Apalagi, banyak properti komersial bisa menyebabkan persaingan antar pengelola properti bila tidak diimbangi petambahan para wisatawan.

Nampaknya, agar tidak terjadi alih fungsi lahan di wilayah wisata, harus ada upaya memperketat pembangunan properti komersial, yaitu dengan cara:

  • Pembangunan properti komersial tidak menyentuh area lahan untuk pertanian/perkebunan
  • Menyeleksi jenis properti
  • Bagaimana kebutuhan penting sebuah properti
  • Mengatur jarak antar properti komersial agar tidak timbul pesaingan tidak wajar.
  • Didahului dengan memfokuskan pada pembangunan properti komersial untuk waga Bali.
  • Stabilkan pendatang agar tidak selalu mempengaruhi lahan


Konon, masyarakat Bali memang bersifat terbuka. Hal ini bisa membuat banyak bangunan properti komersial yang mengalihfungsikan lahan ke depannya.

Tetap Mempertahankan Tradisi Budaya Khas Bali dalam Membangun Properti Rumah

Budaya, tradisi, kekhasan Bali memang disukai banyak orang. Sebelum era pandemi, Bali dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai negara. Hal ini wajar. Namun bila sampai terbangun banyak properti hunian yang mengikis ciri khas Bali, nampaknya bisa mengancam budaya, tradisi Bali.

Permasalahan properti hunian khususnya rumah memang lebih nampak dalam mengalihfungsikan lahan. Hal ini berakibat juga pada mengalihfungsikan budaya, tradisi, kekhasan Bali.

Maka dari itu, tokoh adat, budayawan, tokoh masayarakat dan yang berperan menjaga khas budaya Bali, harus tetap memperhatikan perkembangan properti hunian dan lainnya agar tidak sampai mengalihfungsikan dari khas Bali beralih ke Bali yang tidak dikenal.

Posting Komentar untuk "Menyiasati Rumah Di Bali Mencegah Alih Fungsi Lahan "