Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Rencana Membuat Rumah Tradisi Orang Bali

Setiap suku memang memang memiliki ciri khas dalam rencana yang berdasarkan tradisi membuat rumah. Begitu juga dengan mayoritas masyarakat suku atau provinsi bali. Menurut filosofis ajaran Bali, rumah ibaratnya tubuh manusia. Disini, ada 5 rencana membuat rumah tradisi orang Bali yang menjadi warisan leluhur.


1. Pertimbangan Lahan

Memilih lahan yang tepat memang dipercaya orang Bali. Pemilihan lahan yang tepat berdasarkan rumusan identifiksi: posisi geografis, energi sekala (magis), bencana (kepancabayan) yang datang dari alam, dan datangnya binatang pekarangan. Lahan yang baik tentu yang tidak memiliki identifikasi yang buruk.

Setelah menemukan lahan yang pas, masih diperlukan upacara pembersihan agar pembangunan berjalan dengan lancar.

2. Pertimbangan Hari Baik

Tradisi orang bali yaitu tidak akan membuat rumah saat Randa Tiga atau langkahin rerahinan. Hari tersebut memang tidak baik untuk membuat rumah. Bila memaksakan kehendak, bisa saja membahayakan untuk pemilik rumah. Mengenai jenis berbahayanya bisa saja bervariasi. Intinya, lebih kepada di dalam rumahnya.

Jadi, tradisi orang bali dalam membuat rumah selalu mempertimbangkan hari baik demi mendapatkan kebahagiaan sepanjang hidup di rumah.

3. Pertimbangan Konsep Tri Mandala

Konsep Tri Mandala asal mualanya adalah hasil perkawinan dua konsepsi yaitu konsepsi dalam-luar dan konsepsi sakral-profan seperti pernyataan Gusti Agung Bagus Suryada dalam karyanya.

Konsep Tri Mandala memang untuk konsep arsitektur tradisional yang digunakan untuk pura Hindu di Bali. Hal ini untuk pedoman dalam pembagian area atau lahan menjadi 3 bagian, yang sesuai tingkat sucinya.

Jadi, orang Bali dalam membuat rumah akan memperhatikan Konsep Tri Mandala.

a. Utama Mandala

Utama Mandala bisa dikatakan seperti tempat ibadah. Karena Utama Mandala merupakan tempat suci atau disebut merajan atau mrajan

Dalam laman baliprov.com, dijelaskan bahwa Mrajan yang merupakan istilah singkatan dari Sanggah Pamerajan. Sanggah artinya tempat suci. Sedangkan Pamerajan artinya adalah keluarga. Jadi, Mrajan atau Sanggah Pamerajan adalah tempat suci untuk keluarga tertentu.

b. Madya Mandala

Sedangkan pada Madya Mandala atau disebut Jaba Tengah adalah rumah itu sendiri beserta halamannya. Letaknya di tengah. Seperti yang dilansir Wikipedia, zona tengah atau Jaba Tengah memiliki Bale Pesandekan, Bale Perantenan, Bale Kulkul, Bale Gong dan juga Wantilan.

c. Nista Mandala

Rumah khas bali memang memiliki taman yang melingkari rumah. Hal ini untuk keserasian antara penghuni, rumah dan alam. Di sinlah letak Nista Mandala.

Pada zona Nista Mandala, bisa diisi dengan kegiatan seperti pementasan tari, atau tempat untuk menyiapkan upacara keagaman dan lainnya.

4. Pertimbangan Letak Pintu Masuk Pekarangan

Pintu masuk menjadi poin rencana membuat rumah di Bali. Ini menjadi tradisi yang perlu dipertahankan. Dalam ukuran pintu, bisa ditentukan seharusnya ukurannya berapa. Begitu juga dengan arah pintunya. Dalam hal jumlah pintu juga tidak luput dari perhatian. Tidak boleh banyak pintu masuk.

Memang, banyak faktor yang bisa sebagai penentu pintu masuk rumah. Membuat rumah dengan menghadap jalan, arah utara, aturannya akan berbeda dengan rumah yang arahnya ke selatan.

Memang, ada baiknya menyerahkan sepenuhnya kepada ahli arsitektur tradisional bali dalam membuat rumah, khususnya dalam hal pintu masuk pekarangan.

5. Penerapan Konsep Tri Hita Karana

Di bali memang dilarang membangun gedung tinggi kecuali di bagian Bandara. Di samping agar tidak mengganggu penerbangan, juga untuk menerapkan konsep Tri Hita Kirana dalam membuat rumah. Karena itu, Bali tidak memiliki apartemen. Panjang gedung bertingkat sendiri sekitar 15 meter.

Dalam filosofi Bali, rumah ibaratnya tubuh manusia. Butuh pernafasan. Pernafasan identik ventilasi. Rumah juga butuh suasana yang menyatu dengan alam seperti halnya manusia.

Posting Komentar untuk "5 Rencana Membuat Rumah Tradisi Orang Bali"