Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Kriteria Rumah yang Layak Huni Milik Masyarakat

Mengetahui kriteria rumah yang layak huni milik masyarakat perlu diketahui dengan baik. Hal ini untuk memberikan bantuan berupa renovasi rumah agar bisa layak huni. Setidaknya, pengembang bisa paham bagaimana seharusnya membuat rumah layak huni agar nantinya tidak merugi.

 

Sumber: okezone.com



Memang, kriteria rumah yang layak huni bisa memiliki beberapa cara pandang. Tetapi, pemerintah telah mengaturnya pada pasal 24 huruf a UU PKP mengenai rumah layak huni.

Memahami Rumah Layak Huni Sesuai UU Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP)

Dalam laman Pembiayaan.pu.go.id soal UU PKP, kurang lebih arti rumah yang layak huni adalah rumah yang memenuhi unsur keselamatan dan juga luas bangunan yang layak ditempati.

Tambahan lain adalah adanya unsur kesehatan penghuni ketika menghuni rumah. Hal ini perlu diperhatikan oleh masyarakat itu sendiri, khususnya pengembang perumahan.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Memenuhi kebutuhan minimal masa (tampilan rumah) dan juga ruang (ruangan dalam dan ruangan luar serta kebutuhan luasnya)
  • Memenuhi kebutuhan keamanan dan keselamatan
  • Memenuhi kebutuhan akan kesehatan dan juga kenyamanan penghuni dalam rumah.


Tentunya, pembahasan rumah layak huni yang ditetapkan pemerintah perlu penjabaran kembali mengenai bagaimana unsur bangunan yang aman dan lainnya.

Penjabaran yang Menjadi Bagian Kriteria Rumah Layak Huni

UU PKP memang sudah mendefinisikan rumah layak huni. Perlu penjabaran kriteria untuk lebih memahami bagaimana rumah layak huni.

1. Membuat pondasi yang kokoh

Kriteria pondasi kokoh bergantung juga dengan kondisi tanah dan bangunanya. Intinya, agar lebih memenuhi unsur keamanan, keselamatan, kedalamannya harus diperhatikan sesuai tinggi bangunan dan jenis bangunan. Semakin tinggi bangunan rumah, kedalaman pondasi di bawah permukaan tanah harus lebih dalam. Tentunya, pengecualian pada rumah panggung.

Pondasi yang aman tentu harus disertai sambungan balok pondasi atau disebut slof. Jadi, rumah tidak sekedar memiliki pondasi yang mengabaikan sambungan balok pondasi.

Membuat pondasi juga harus melihat kondisi tanah. Tanah bekas pertanian yang masih belum keras atau disebut masih tanah hidup, perlu melakukan pondasi yang lebih dalam lagi. Ada baiknya memang tanah dikeraskan terlebih dahulu agar lebih kokoh.

2. Penggunaan material yang benar memenuhi syarat layak huni

Pengaturan rumah layak huni sesuai ketentuan pemerintah memang agak menyingkir membuat rumah tradisional atau disebut rumah adat yang material bangunanya kebanyakan memakai kayu.

Ya, penggunaan material yang benar memenuhi syarat huni tentunya yang memenuhi unsur aman. Keamanan ini masuk pada keamanan dari paparan sinar matahari, aman dari tetesan air hujan, aman dari api.

Material batu-bata adalah material yang dianggap tepat dalam membuat rumah layak huni. Alasannya karena lebih memenuhi unsur keamanan. Batu bata tidak bisa terbakar. Batu bata tidak bisa hancur ketika kena air.

Untuk bagian atap, genteng yang terbuat dari tanah yang paling aman. Bisa saja, anda menggunakan seng atau jenis lainnya. Selagi masih aman dari paparan sinar matahari dan air hujan, masih bisa digunakan. Namun genteng tanah memang yang paling aman melindungi penghuni rumah.

Tetapi, rumah yang terbuat dari kayu bisa jadi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa disebut rumah layak huni. Karena ada beberapa rumah yang masih menggunakan kayu.

3. Memiliki luas minimum pada ruangan

Ada kasus kos-kosan yang tidak layak huni di Jakarta. kos-kosan ini disebut juga sleep box, yakni ruangan yang hanya untuk tidur saja. Ukuran luasnyanya 2 x 1. Tingginya tidak sampai satu meter.

Konsep sleep box secara definisi memang tidak ada yang salah. Karena definisi sleep box ini bisa dipakai untuk ruangan tidur yang memang layak huni yakni memenuhi ukuran luas minimun.

Kalau diperuntukkan untuk rumah, luas minimun sekitar 7,5 m2 sampai 12 m2 per kepala. Bila ingin dihuni dua orang, bisa memilih tipe 21 meter persegi (m2).

Tentunya, ruangan khusus kamar bagian memiliki keluasan yang lain dari luas minimum rumah yang mungkin hanya 2 x 1 meter. Hanya saja, ruangan kamar perlu keluasan yang layak juga sekitar 3 meter persegi atau bisa 2 meter persegi. Dengan disertai urusan setinggi rumah seperti 2 meter persegi.

4. Memiliki 3 uangan utama rumah layak huni

Dalam rumah ukuran yang memenuhi luas minimum, harus memiliki 3 ruangan utama yang sebagai syarat rumah layak huni. Ruangannya adalah ruang kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Di dalam ruangan sebenarnya harus ada ruangan jalan sebagai ruang gerak antara ruang kamar dan dapur.

5. Terpenuhinya fasilitas utama dalam rumah layak huni

Mungkin sebagian pengembang perumahan mengabaikan fasilitas fisik mendasar yang harus ada dalam rumah agar dianggap rumah layak huni. Fasilitas ini berkaitan dengan kebutuhan air bersih dan aliran listrik. Hal ini yang membuat pemerintah bertindak tegas pada pengembang yang tidak memenuhi fasilitas air bersih dan listrik dalam pengembangan perumahan.

Fasilitas yang sifatnya non fisik pun harus diperhatikan karena bisa mempengaruhi kesehatan si penghuni seperti sirkulasi udara dan pencahayaan matahari. Namun fasilitas ini bergantung pada rancangan pembangunan.

Posting Komentar untuk "5 Kriteria Rumah yang Layak Huni Milik Masyarakat"