Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Bisnis Apartemen Menurun Peminat di Masa Pandemi?

Mengapa bisnis apartemen menurun peminat di masa pandemi? Pertanyaan ini memang terkesan sudah menjawab pertanyaan itu sendiri. Karena, bisnis apartemen yang menurun peminat justru ketika memasuki masa pandemi. Bisa jadi memasuki masa pandemi hanya sebagai awal peminat apartemen menurun.

Sumber:jawapost.com


Biasanya, bisnis properti menurun karena potensi transaksinya berhubungan dengan penurunan wisatawan akibat pandemi seperti yang ada di Bali. Bila memang bisnis apartemen ikut mengalami penurunan di masa pandemi, lantas ada masalah apa?

Berawal dari Aturan Pembatasan Sosial Masa Pandemi

Bisnis apartemen ikut terkena dampak pandemi seperti halnya properti di wilayah pariwisata seperti di Bali. Masalah ini terjadi akibat social distancing dan juga “Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat” atau disebut PPKM. Akibatnya, terjadi penurunan sewa dari 60% ke 52% yang dilansir CNBC Indonesia.

Padahal, apartemen adalah properti hunian yang berbeda dengan mal. Pengguna apartemen tidak mungkin meninggalkan apartemennya bila memang tidak berpengaruh soal aturan pemerintah. Kalau misal berpindah tempat, berarti ada yang salah dalam pengelolaan bermasyarakat di apartemen.

Alaasan apa lagi yang berpotensi mengalami penurunan pada bisnis apartemen?

Masih Mementingkan Rumah Tapak

Bisnis apartemen mengalami penurunan dalam peminat menang sudah dirasakan sebelum masuk masa pandemi. Puncaknya memang ketika masuk masa pandemi. Mengapa menurun? Tentu, mereka seperti tidak memiliki minat lagi pada apartemen ketika bermunculan banyak pengembangan perumahan.

Hal itu pun diamini CEO Indonesia Properti Watch bahwa bisnis apartemen mengalami penurunan peminat karena banyak yang lebih memilih rumah dan kavling. Ketika dua kesempatan itu tidak ada atau bisa, mereka akan memilih alternatif ketiga yaitu apartemen.

Alasannya, kata CEO ini, rumah jauh lebih bernilai. Tentunya, rumah tapak masih lebih bisa dibanggakan daripada apartemen. Ya, memiliki rumah sudah pasti akan memiliki tanah. Bangunan rusak, investasi tanah masih tetap aman. Inilah alasan, mengapa harus punya rumah sendiri bukan di kontrakan atau apartemen.

Masa Pandemi Banyak yang Memilih Hati-hati Mengambil Investasi Apartemen

Konon, kebanyakan peminat di apartemen adalah mereka yang berniat berinvestasi. Bisa jadi, membeli apartemen untuk disewakan. Kebanyakan penyewanya adalah pekerja asing, turis dan orang yang diberi tugas di daerah lain.

Setelah datang pandemi, para investor cenderung mengabaikan pengelolaan investas apartemen. Apalagi, apartemen sewa kehilangan peminatnya.

Fokus investasi yang mereka lakukan memang dialihkan pada instrumen investasi yang lain seperti emas, saham dan yang lainnya yang sifatnya dinamis.

 

Banyak yang Lebih Mementingkan Rumah yang Mendukung Kesehatan

Semenjak memasuki masa pandemi, kesehatan seperti sudah menjadi nomer satu. Urusan pandemi, berurusan dengan kebutuhan sinar matahari pagi, pemandangan hijau, udara yang segar dan tentunya terhindari dari lalu-lalang orang. Intinya, gaya hidup sehat dioptimalkan.

Tinggal di apartemen nyaris sulit untuk suplay sinar matahari pagi. Kalaupun ingin mendapatkannya, harus turun di lantai bawah terlebih dahulu. Atau, posisi jendela berada tepat untuk terkena matahari pagi.

Begitu juga masalah udara segar yang berasal dari ruang terbuka hijau. Pemilik apartemen lantai atas tidak bisa memenuhi stok udara segar dari pepohonan.

Tentunya, anda akan selalu berhadapan dengan orang-orang dengan jarak yang dekat ketika ingin memasuki apartemennya seperti di life. Padahal, kalau di rumah tapak, perjumpaan dengan orang dekat bisa dihindari dengan mudah.

Karena beberapa masalah tinggal di apartemen yang kurang memenuhi unsur kesehatan, sebagian orang lebih memilih membeli rumah atau menyewa rumah yang mendukung pada kebutuhan kesehatan.

Posting Komentar untuk "Mengapa Bisnis Apartemen Menurun Peminat di Masa Pandemi?"