Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seputar Bisnis Kos-Kosan Di Bali Saat Pandemi

Bagaimana seputar bisnis kos-kosan di Bali saat pandemi? Usaha kos-kosan ikut berperan dalam memenuhi tempat tinggal di Bali. Mereka yang bekerja di sektor pariwisata Bali memang membutuhkan tempat kos-kosan karena bisa dibilang murah. Begitu juga dengan wisatawan, butuh sewa kos-kosan di Bali. Tentunya, saat pandemi, bisnis kos-kosan di Bali terkena imbasnya.

idntimes
Sumber: idntimes.com

Untunglah, sekarang ini di tahun 2022, sektor wisata sudah mulai ada pemulihan dengan tetap mematuhi prokes. Namun, pengalaman bisnis kos-kosan di Bali saat pandemi bisa menjadi pelajaran ke depan di saat pasca pandemi.

Kasus Pemilik: Bisnis Kos-kosan Memberikan Potongan Harga Sewa

Kasus bisnis kos-kosan di Banjar Padang, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Pemilik bisnis kos-kosan, Bagus Putra, mengakui telah menjalankan bisnis kos-kosan sejak tahun 2017. Sekarang, sudah ada 28 kamar yang berada dekat di samping rumahnya. Harga sewa 500.000 sampai dengan 650.000 per bulan.

Saat pandemi covid, yakni pertengahan 2020, banyak para penyewa meminta keringanan sewa kos. Padahal, harga yang sudah ditetapkan tergolong murah untuk kos-kosan di Bali. Ada juga yang menghentikan penyewaan karena kehilangan pekerjaan. Banyak penyewa yang bekerja dalam sektor pariwisata Bali.

Dari 28 kamar, pemilik mengakui hanya 12 kamar yang terisi. Ini artinya, sebagian besar penyewa terkena dampak pandemi yang mengacaukan di sektor pariwisata. Sebenarnya bukan pandeminya. Melainkan saat pandemi, berlaku pembatasan di tempat wisata.

Karena terjadi penurunan pada bisnis kos-kosan di Bali saat pandemi, pemilik menggunakan strategi penurunan biaya sewa kos-kosan di Bali. Hal ini bisa jadi sebagai strategi membiayai beban listrik dan lainnya. Tentunya, dari pemerintah tidak mendapat bantuan subsidi yang membuat pemilik menurunkan harga sewa bisnis kos-kosan.

Kasus Penyewa: Sudah 10 Tahun Ngekos Di Bali Memilih Pulang Kampung Saat Pendemi

Di tempat kos-kosa lain, penyewa kos-kosan di Bali, Laili Rizky yang berasal dari Malang, sudah mengandalkan sewa kos-kosan di Bali selama 10 tahun. Secara pengeluaran finansial, tentu sudah melakukan lebih banyak pengeluaran untuk biaya kos.

Saat datang masa pandemi, penyewa kios-kosan memilih pulang kampung saat datang masa pandemi. Perusahaan hiburan yang sebagai tempat pemilik kos-kosan bekerja pun terkena dampak.

Penyewa kos-kosan asal Kabupaten Malang mengakui bahwa ia bisa mencari pekerjaan di tempat lain di Bali. namun banyak tawaran kerja yang memberikan penawaran gaji semena-mena akibat pandemi, yakni gaji di bawah standar. Gaji yang kecil tidak bisa untuk kebutuhan biaya sewa dan makan.

Bisnis Kos-kosan di Bali Bergantung pada Pemulihan Sekor Pariwisata, Sekolah dan Kampus

Menurut Dosen Unwar, Anak Agung Gede Krisna Murti, seperti yang dilansir IDN Times menuturkan bahwa bisnis properti sewa kos-kosan di Bali masuk dalam kategori bisnis yang terkena dampak pandemi.

Pertama, banyak mahasiswa yang lebih dianjurkan belajar di rumah. artinya, segala aktifitas tidak perlu mengunjungi kampus. Karena itu, daripada dibebani sewa kos-kosan, lebih baik pulang ke rumah.

Kedua, banyak sektor pariwisata yang mengalami penutupan. Akibatnya, para wisatawan dari berbagai penjuru dunia meninggalkan Bali untuk sementara. Hal ini berdampak pada kekosongan properti komersial, seperti halnya kos-kosan. Hal ini membuat banyak kehilangan pemasukan harian atau bulanan dari kos-kosan.

Solusi Pasca Pandemi untuk Bisnis Kos-kosan

Solusi pasca pandemi harus lebih menitikberatkan pada keselamatan bisnis kos-kosan ketika masa pandemi datang kembali. Setidaknya, bisnis kos-kosan tidak mengalami kerugian walaupun masa pandemi datang kembali.

Antara lain yang perlu disiapkan adalah:

1. Persoalan Biaya Pembangunan Properti Bisnis Kos-Kosan Tanpa Bank

Sebagian pemilik kos kemungkinan membangun atau memiliki properti kos-kosan dengan mengandalkan pinjaman bank. Hal ini cukup beresiko ketika masuk masa pandemi. Ketika pemasukan berhenti, biaya beban hutang tetap berjalan baik untuk operasional atau biaya cicilan bank.

Lebih baik permodalan mengandalkan uang sendiri atau patungan.

2. Menyediakan Wifi Gratis

Menyediakan wifi gratis bukan berarti harga sewa kos-kosan mahal. Wifi gratis yang diberikan hanya sebagai strategi agar siap menghadapi seperti masa pandemi.

Bisa jadi, mereka yang pulang ke rumah, tidak lagi di tempat kos karena di dalam kamar kosnya tidak memiliki fasilitas wifi gratis.

Dengan adanya wifi gratis, penyewa kos-kosan di Bali tidak jadi pulang kampung. Alasannya, kalau pulang kampung, tetap saja akan menjalani aktifitas sebagai pengangguran atau masa sia-sia di rumah. Kalaupun ingin sibuk berinternet, mereka membutuhkan biaya internet. Lebih baik tetap di kos-kosan sambil menikmati internet gratis dan mencari peluang di internet.

Sumber: idntimes.com

Posting Komentar untuk "Seputar Bisnis Kos-Kosan Di Bali Saat Pandemi"