Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Pembelian Rumah Yang Berstatus Jaminan Hutang

Bagaimana cara pembelian rumah yang masih dalam jaminan hutang? Sekarang ini banyak penjualan rumah dengan sistem KPR. Bahkan, pelunasannya bisa lebih dari 5 tahun. Bagi pemilik rumah dan juga pembeli rumah, perlu solusi jual-beli rumah yang masih dalam jaminan hutang.

Sumber: Finansialku.com
 
Pembelian rumah dalam kondisi normal memang tidak membutuhkan waktu lama, dalam arti, hak dan kewajibannya sudah sepenuhnya milik orang yang membeli rumah.

Hal Itu karena subjeknya jelas, penjual dan pembeli. Objeknya juga jelas yaitu rumah dengan legalitasnya seperti sertipikat tanah, Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB), bukti pembayaran dan juga IMB. Kelengkapan ini harus ada ketika transaksi penjualan dan pembelian rumah.

Beberapa Kendala Transaksi Sertifikat Yang Masih Dalam Tanggungan

Ada 3 kendala yang akan dijelaskan mengenai pembelian rumah atau transaksi sertifikat yang masih dalam tanggungan.

#Kendala pertama

Anda belum bisa mengecek sertifikat rumah asli ke pihak BPN karena sertifikat rumah asli masih berada di kreditur sebagai penjamin hutang, dalam hal ini masih dipegang bank.

Masalah pengecekan sertifikat sendiri memang sudah jadi keharusan karena diatur dalam Pasal 97 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomer 3 tahun 1997. Artinya, memang, sebelum penandatanganan Akta Jual Beli, harus melakukan pemeriksaan sertipikat rumah asli di kantor BPN.

#Kendala kedua

Bila memang mau melakukan pengambilan sertipikat yang ada di kreditur, dalam hal ini bank, perlu melunasi terlebih dahulu hutangnya.

Padahal, penjual rumah sendiri merasa perlu menjual rumah karena kesulitan uang dan tidak mampu membayar hutang di bank. Di sisi yang lain, sebagai pembeli rumah, berniat juga ingin mengajukan KPR karena tidak mampu membayar kontan.

Tentunya, bila kredit diserahkan ke pembeli, muncul kendala ketiga.

#Kendala ketiga

Bila memang hutang dilunasi pembeli, bisa jadi pembeli merasa rugi, setidaknya pembeli merasa ragu.

Apa jaminan kalau pemilik rumah akan kooperatif dan tidak menghilang, setidaknya susah ditemui ketika pembeli membantu proses hutang pemilik rumah di bank?

Meminta Bantuan Notaris Sejak Awal Proses

Untuk mengatasi pembelian rumah yang masih dalam jaminan hutang, bisa saja sebenarnya. Yaitu, sejak awal, pembelian rumah bisa melibatkan notaris sebagai penengah. Dalam proses transaksi, pemilik, calon pembeli, notaris dan pihak bank melakukan kesepakatan bersama dalam proses transaksi. Tentunya, sebagai pembeli menyetujui untuk pelunasan hutang pemilik rumah.

Setelah hutang dilunasi, pihak bank akan memberikan surat roya yang berisikan bahwa hutang debitur sudah lunas. Dalam hal ini, pihak ketika sudah tidak ada urusannya lagi.

Sertifikat Dari Kreditur Diserahkan Kepada Notaris

Setelah dinyatakan lunas hutang rumah yang ada di bank, sertifikat diserahkan kepada kantor notaris bukan pemilik. Hal ini untuk menghindari pemilik rumah kabur atau susah ditemui yang mengakibatkan batal transaksi tetapi pembeli kehilangan uang.

Alasan sertifikat diserahkan kepada notaris karena notaris/PPAT sebagai pihak yang nentra, yang akan mengamankan proses transaksi antara penjual dan pembeli rumah. Tentunya, alasan lainnya karena pihak notaris sendiri yang bertugas membuat Akta Jual Beli (AJB).

Setelah sertipikat ada di kantor, maka bisa melakukan proses transaksi jual beli secara normal.

Namun, apakah mau dibayar lunas atau pembayaran mencicil, tentu bisa diatur kembali karena sudah lepas dari ikatan pihak ketiga yaitu bank. Pihak notaris yang bisa menjadi wakil penjualan. Bila memang mau melakukan pelunasan kembali, bisa membayar sesuai jumlah kekuarangannya, karena sebelumnya sudah membayar sebagian.

Setelah pembayaran lunas, bisa langsung pada penandatanganan Akta Jual Beli dan juga proses balik nama sertipikat di kantor BPN setempat.

Sumber: Asriman.com

Posting Komentar untuk "Cara Pembelian Rumah Yang Berstatus Jaminan Hutang"